Mungkin diluar sana banyak yang beranggapan bahwa sekolah kita ini kurang bagus atau bahasa kasarnya kurang bermutu. Tapi sebenarnya semua itu salah karena pintar atau tidaknya seseorang, lulus atau tidak tergantung pada diri siswa itu sendiri. Opini masyarakat itu seakan terjawab pada UAN 2007/2008 kemarin, seperti yang kita tahu bahwa 38 anak dinyatakan tidak lulus ujian sehingga mereka yang kurang beruntung itu harus mengikuti ujian paket B untuk bisa masuk ke Universitas. Benar-benar menyakitkan melihat kenyataan ini, tapi kita tak boleh pasrah apalagi mengeluarkan kata menyerah dan putus asa. Justru dengan kejadian ini harus bisa memacu kita agar lebih giat belajar dan bersungguh-sungguh.
Merubah keadaan memang tak semudah membalikan telapak tangan yang bisa kita lakukan dalam hitungan detik. Pernah ada yang bilang bahwa untuk menjadi sukses tak perlu sekolah yang megah atau harus di kota besar karena semua itu akan percuma kalau tidak disertai kerja keras dan semangat yang tinggi, justru disini adalah kesempatan kita untuk membuktikan bahwa anggapan negatif itu salah. Sebagai generasi penerus bangsa ada kalanya kita juga menengok kebelakang, banyak tokoh di Indonesia yang berasal dari daerah seperti Soekarno yang berasal dari Jawa Timur nyatanya beliau bisa sukses bahkan pernah menjadi Presiden kita. Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa kita tidak bisa seperti beliau? Jawabanya sederhana, yaitu karena kita orang Indonesia suka bermalas-malasan, tidak mau susah payah tapi inginnya mendapat nilai yang bagus. Sepertinya kata-kata tersebut tepat untuk menggambarkan siswa-siswi di SMAN 1 Plosoklaten ini, padahal umtuk sukses itu butuh pengorbanan, kerja keras, dan semangat juang yang tinggi.
Ada yang pernah bilang bahwa dengan taat beribadah semua permohonan kita akan dikabulkan oleh Tuhan YME, tapi apakah mereka tahu kalau sebenarnya Tuhan menyukai orang yang mau berusaha demi mencapai keinginannya asalkan hal yang positif aja yang negatif buang jauh-jauh … seperti kata pepatah “Agama tanpa ilmu bagaiakan orang yang buta, begitu pula sebaliknya ilmu tanpa agama bagaikan orang yang kehilangan arah” jadi semua itu harus seimbang antara do’a dan usaha sehingga hasilnya pun bisa maksimal. Kadang penting juga kalau kita melihat di Negara tetangga misalnya saja Negara Jepang, seperti yang kita tahu bahwa orang Jepang tidak mudah menyerah, tidak takut cobaan ataupun kesusahan, dan melakukan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh. Dari semua itu yang paling berkesan adalah mereka tak pernah menunggu peluang datang melainkan mencari sendiri peluang itu. Ironis bukan bila dibandingkan dengan kita orang Indonesia yang suka malas-malasan, pemboros, menyia-nyiakan waktu dan tenaga.
Sekarang coba kalian pikir bagaimana kita bisa mencapai keberhasilan itu? Sementara dari hal yang sederhana saja seperti sekolah, mana ada siswa yang tidak ingin cepat pulang apalagi kalau mendengar mau libur pasti senangnya bukan main. Mulai sekarang kita harus merubah kebiasaan buruk itu dan mengubahnya menjadi kebiasaan yang membawa kita ke hal yang positif. Sebagai generasi muda di Negara berkembang seperti di Indonesia ini masih banyak membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang bisa membawa kita menjadi bangsa maju berkedisiplinan tinggi.
“Kekalahan dapat ditebus dengan kemenangan dan keberhasilan dalam hal lain, dengan perubahanlah akan timbul kemajuan dan dari kemajuan itu akan lahir perubahan”.
Merubah keadaan memang tak semudah membalikan telapak tangan yang bisa kita lakukan dalam hitungan detik. Pernah ada yang bilang bahwa untuk menjadi sukses tak perlu sekolah yang megah atau harus di kota besar karena semua itu akan percuma kalau tidak disertai kerja keras dan semangat yang tinggi, justru disini adalah kesempatan kita untuk membuktikan bahwa anggapan negatif itu salah. Sebagai generasi penerus bangsa ada kalanya kita juga menengok kebelakang, banyak tokoh di Indonesia yang berasal dari daerah seperti Soekarno yang berasal dari Jawa Timur nyatanya beliau bisa sukses bahkan pernah menjadi Presiden kita. Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa kita tidak bisa seperti beliau? Jawabanya sederhana, yaitu karena kita orang Indonesia suka bermalas-malasan, tidak mau susah payah tapi inginnya mendapat nilai yang bagus. Sepertinya kata-kata tersebut tepat untuk menggambarkan siswa-siswi di SMAN 1 Plosoklaten ini, padahal umtuk sukses itu butuh pengorbanan, kerja keras, dan semangat juang yang tinggi.
Ada yang pernah bilang bahwa dengan taat beribadah semua permohonan kita akan dikabulkan oleh Tuhan YME, tapi apakah mereka tahu kalau sebenarnya Tuhan menyukai orang yang mau berusaha demi mencapai keinginannya asalkan hal yang positif aja yang negatif buang jauh-jauh … seperti kata pepatah “Agama tanpa ilmu bagaiakan orang yang buta, begitu pula sebaliknya ilmu tanpa agama bagaikan orang yang kehilangan arah” jadi semua itu harus seimbang antara do’a dan usaha sehingga hasilnya pun bisa maksimal. Kadang penting juga kalau kita melihat di Negara tetangga misalnya saja Negara Jepang, seperti yang kita tahu bahwa orang Jepang tidak mudah menyerah, tidak takut cobaan ataupun kesusahan, dan melakukan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh. Dari semua itu yang paling berkesan adalah mereka tak pernah menunggu peluang datang melainkan mencari sendiri peluang itu. Ironis bukan bila dibandingkan dengan kita orang Indonesia yang suka malas-malasan, pemboros, menyia-nyiakan waktu dan tenaga.
Sekarang coba kalian pikir bagaimana kita bisa mencapai keberhasilan itu? Sementara dari hal yang sederhana saja seperti sekolah, mana ada siswa yang tidak ingin cepat pulang apalagi kalau mendengar mau libur pasti senangnya bukan main. Mulai sekarang kita harus merubah kebiasaan buruk itu dan mengubahnya menjadi kebiasaan yang membawa kita ke hal yang positif. Sebagai generasi muda di Negara berkembang seperti di Indonesia ini masih banyak membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang bisa membawa kita menjadi bangsa maju berkedisiplinan tinggi.
“Kekalahan dapat ditebus dengan kemenangan dan keberhasilan dalam hal lain, dengan perubahanlah akan timbul kemajuan dan dari kemajuan itu akan lahir perubahan”.




Posting Komentar