Lonceng kecil berdering menandakan pukul 22.00 WIB, malam ini begitu sunyi dan sepi, nggak biasanya pos satpam di komplekku menghentikan suara teriakkannya. Begitu juga dengan perasaanku resah, gundah, gelisah brcampur jadi satu. Hape pun tergeletak tanpa ada panggilan maupun sms. Sekilas kuteringat Syal Merah Jambu yang tergantung dibalik pintu, begitu kusam. Seakan kuterbayang sosok tinggi, manis, kulit putih begitu pula dengan sikapnya, dia begitu perfect tapi 7 bulan yang lalu, Andra sapa akrabnya Wira Chandra Aditya lengkapnya. Sosok figure yang didambakan cewek-cewek disekolahku. Ku bersyukur bisa kenal Andra, apalagi setahun sudah kita merajut cinta bersama. Hal yang begitu menyenangkan sekaligus menyedihkan. Promnight bulan depan ku pengen Syal Merah Jambu melilit dileherku, tapi . . . ku sadar Andra bukan milikku, rasa kangen mulai bersemi dalam diriku seakan terbayang Syal Merah Jambu, hingga lamunanku terlelap dalam mimpi.
* * *
Suara kokokan Ayam Jago membangunkanku dalam tidur malam, terlihat dibalik tirai sorotan mentari pagi mulai memuncak, langsung ku berlari mengambil air suci, sholat jamaah segera dimulai Papa dan Mama sudah menungguku. 10 menit sudah berlalu, kuputuskan kembali ke kamar langsung kubersihkan tempat tidur dan bersiap-siap berangkat sekolah. Guyuran air pancuran membuat tubuh mungilku serasa begitu menyegarkan. Seragam putih abu-abu siap menungguku. Terdengar dari balik pintu suara Mama memanggilku.
“Eca . . . ayo cepetan sayang, n’tar kesiangan berangkatnya?”, teriak Mama sambil menyiapkan sarapan.
“Iya Mam . . . bentar lagi”, jawabku dengan lembut.
“Yach . . . udah selesai nih, saatnya sarapan”, berjalan menuju meja makan.
Langsung kuteguk segelas susu dan sepotong roti coklat kesukaanku yang disiapin Mama.
“Ma . . . Pa . . . eca berangkat dulu ya? “ (terdengar suara klakson mobil Irgi, serasa menyuruh Eca segera keluar), sambil cium tangan keduanya Eca pamitan.
* * *
“Hai Gi . . . udah siap nih?”, sapa Eca dengan riang (sambil buka pintu).
“Hai Ca . . . ayo cepetan n’tar keburu macet loch!”, sapa Irgi sambil mengajak Eca.
Sepanjang perjalanan kami berdua asyik ngobrol macam-macam, Irgi itu temen SDku bahkan sampai SMA sekarang kami tetap akrab. Irgi lucu, anaknya asyik tapi dia tukang usil. 20 menit perjalanan menuju sekolah pun akhirnya berakhir. Kami turun dari mobil dan menuju kelas masing-masing. Kebetulan kelas kami sebelahan jadi kami selalu barengan masuknya, kecuali kalau kita berangkat ndiri-ndiri. Dari ujung lorong terlihat papan ruang kelas IAŠ·. Aku pun akhirnya masuk kelas dan Irgi juga.
“Pagi semua . . . ?”, sapaku dengan lembut.
“Pagi . . . “, balas teman-teman.
* * *
Bel istirahat berbunyi, akhirnya pelajaran Fisika berakhir, betapa gembiranya aku karena guru mapelnya killer bo’o . . . ! Wuih . . . asyiknya!
“Ca . . . kekantin yuk?”, ajak Deva.
“Nggak ah Va . . . thanks!”, sambil beranjak pergi dari tempat duduknya, sambil berjalan mengintari lorong-lorong, akhirnya orang yang dari tadi dicari-cari ketemu juga.
Ditaman belakang sekolah terlihat Andra sedang baca-baca, yah . . . walaupun dia cowok. Tapi Andra paling rajin dikelasnya karena dia selalu dapat juara umum.
“Rasanya pengen menemani dia seperti biasa, duduk didekatnya,pikirku” (Dengan langkah malu-malu kudekati Andra dan . . . )
“Hai, Chan . . . “, sapaku riang.
“Hai . . . “, jawabnya singkat.
“Lagi ngapa kamu? Sibuk nggak?”, berusaha ngajak ngomong.
“Baca-baca, nggak kok!”, jawabnya singkat lagi,(Hufh . . . kenapa si Andra buat aku seperti ini. Apa salahku sama dia? Padahal aku masih sayang banget sama dia).
“Boleh aku duduk disini?”, sapaku lagi.
“Boleh!”, jawabnya dengan ketus.
Hampir saja aku duduk dekat Andra, dari kejauhan terlihat Mak Lampir datang.
“Hai sayang . . . dari tadi aku cariin, nggak taunya disini!“, sapa Monic dengan ganjen.
“Eh, Monic ada apa?”, balas Andra.
“Lho, kok ada apa sih? Tadi katanya mau ke kantin bareng sayang?”, sambil merengek.
“Ayo sayang . . . “, sambil menarik tangan Andra dan pergi.
Aliran darahku serasa berhenti ketika melihat Andra dan Monica gandengan tangan dengan mesra. Tinggal sosok tubuh Andra yang kulihat perlahan menghilang diantara lorong-lorong menuju kantin. Mataku pun mulai berkaca-kaca, rasanya tubuh ini mulai melemas dan tak sadarkan diri. Sebagian teman yang melihatkul angsung menolong dan membawaku ke ruang UKS.
“Deva . . . Deva . . . “, teriak Gadis sambil lari-lari.
“
“Eca . . . Eca . . . pingsan Va!”, dengan nada binggung Gadis menyampaikan kabar itu.
Deva dan Gadis pun langsung meninggalkan kantin dan menuju ruang UKS. “Ketika Andra tak sengaja mendengar pembicaraan itu, perasaan Andra nggak karu-karuan, binggung, sedih. Aku pengen tau keadaan Eca tapi aku sudah menyakitinya”, bisiknya lirih.
Bel masuk berbunyi, anak-anak SMA Bina Bakti langsung masuk kelas masing-masing, terdengar di halaman depan sirene mobil Ambulance berbunyi, Eca yang masih tak sadarkan diri langsung digotong dan dimasukkan ke mobil Ambulance menuju Rumah Sakit. Andra yang menyaksikan tubuh Eca digotong, langsung berkaca-kaca. (“Ca . . . ma’afin aku, ma’afin aku . . . !”, Kata yang pertama keluar dari bibir Andra).
* * *
Sesampainya di Rumah Sakit Eca langsung dibawa ke UGD. Papa, Mama, Irgi dan Deva sudah menunggu, dengan perasaan cemas dan deg-degan mereka semua khawatirin aku. Hampir 30 menit diperiksa, akhirnya Dokter pun keluar dari kamar UGD. Langsung Papa dan Mama nanya macam-macam, seolah-olah mereka semua takut terjadi apa-apa sama aku.
“Bagaimana keadaan Putri saya Dok? Apa yang terjadi sama dia?”, sampai segitunya Mama khawatirin aku.
“Mari Bapak dan Ibu ikut keruangan saya”, ajak Dokter.
“Iya . . . Dok!”, jawab Papa dan Mama serentak.
“Keadaan Putri Bapak dan Ibu alhamdullilah baik-baik saja, mungkin cuma kecapekan saja dan kondisinya agak lemah. Apa Bapak dan Ibu punya masalah dengan Putri anda? Kelihatannya dia sangat shok?”, kata Dokter.
“Nggak ada itu Dok, kami berdua selalu baik-baik saja sama dia!”, jawab Mama.
“Mungkin kalau kondisi Putri Bapak dan Ibu sampai sore ini masih lemah, 2-3 hari Putri Anda harus diopname”, kata Dokter.
“Nggak apa-apa Dok, yang penting Putri saya sembuh! Ya sudah, kami permisi dulu mau melihat kondisi Putri saya dulu terima kasih Dok!” (Sambil berjabat tangan Papa dan Mama pergi meninggalkan ruangan Dokter).
Perlahan-lahan senja diufuk timur mulai tenggelam, itu tandanya malam pun segera datang. Sampai sore ini kondisiku belum juga stabil, akhirnya Papa dan Mama memutuskan supaya aku diopname, biar aku bisa istirahat tenang disini. Papa langsung urus biaya administrasiku.
* * *
Hari ketiga aku diopname teman-teman sedikit demi sedikit mulai datang bermunculan menjengukku. Sampai sekarang Andra belum juga muncul datang menjengukku.
“Apa Andra nggak tau kalau aku opname? Atau dia udah nggak peduli sama aku???”, bisikku lirih.
Rasanya aku sudah nggak betah di Rumah Sakit, walaupun teman-teman banyak yang mengunjungiku dan ngajak aku bercanda, tapi orang yang aku harapin buat datang tak juga muncul batang hidungnya.
“Kalau terus-terusan aku disini, aku pasti akan lebih menderita lagi”, bisiknya.
“Ma . . . Ma . . . ?”, Eca manggil-manggil Mamanya.
“
“Eca pengen pulang Ma . . . Eca sudah sembuh, Eca pengen pulang”, dengan nada memohon.
“Iya . . . nanti Mama tanya sama Dokter, kalau kondisi Eca sudah baik, nanti sore kita pulang”, jawab Mama.
“Beneran Ma . . . makasih ya Ma . . .”, (sambil memeluk Mamanya).
Sehabis pulang sekolah Irgi, Deva dan Gadis datang menjengukku. Mereka bertiga begitu baik sama aku. Irgi, Deva dan Gadis sudah mengetahui kalau sekarang Andra juga diopname penyakit Leukimia menggerogotinya lagi Stadium akhir telah divoniskan. Kehidupan Andra tinggal dalam hitungan hari. Mereka bertiga sepakat kalau nggak akan ngasih tau aku tentang kondisi Andra yang sebenarnya. Mereka nggak mau aku sedih, biar nanti aku tau sendiri.
“Hai cantik . . . “, sambil membuka pintu mereka bertiga masuk.
“Hai . . . “, jawabnya masih agak lemas.
“Gimana non kabar kamu? Sudah baikkan?”, tanya Deva.
“Udah kok Dev, makasih ya buat semuanya . . . kalian mang sahabatku yang paling baik”, bisik Eca.
“Mungkin sore ini aku udah pulang kok”, dengan nada gembira.
“Siap Tuan Putri, mau diajakin kemana lagi nih? Sepi . . . kalau berangkat tanpa Tuan Putri Eca!”, sambil ngeledek.
“Irgi . . . awas ya kamu, hufh . . .”, sambil tersenyum.
Tak terasa hari udah sore mereka bertiga pamitan pulang. Tinggal aku dan Mama yang ada dikamar itu, perasaanku gelisah langsung kuterpikir dalam benakku sosok Andra.
“Aku kangen sama Andra, gimana kabar dia?”, bisikku lirih.
Dokter pun menghampiri Eca dan Mama, infus tangan Eca akan segera dilepas. Betapa bahagianya Eca.
“Dok, besok aku sudah boleh masuk sekolah belum?” , Tanya Eca.
“Iyah . . . nggak apa-apa besok masuk, tapi inget nggak boleh kecapekan lagi?”, jawab Pak. Dokter.
“Baik Pak. Dokter!”, senang.
Akhirnya sore sekitar pukul 17.00 WIB Eca check out dari Rumah Sakit, Papa juga sudah menyelesaikan biaya administrasi Rumah Sakit, Papa, Mama dan Aku langsung pulang, sepanjang perjalanan aku begitu menikmati pemandangan udah 4 hari aku nggak keluar kamar sama sekali, bahagia rasanya. Pengen cepet-cepet besok harinya. Aku pengen ngasih kejutan sama Andra kalau aku udah sembuh.
* * *
Seperti biasa kegiatanku setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Walaupun aku baru sembuh. Pagi ini aku begitu bahagia. Hari ini orang yang pertama pengen aku temui Andra. Irgi juga sudah menjemputku 20 menit perjalanan menuju sekolah. Sesampainya di sekolah langsung ku turun dari mobil. Tapi hari ini aneh, nggak biasanya . . . parkir yang ditempati Irgi sekarang
“Va . . . kamu tau nggak kabarnya Andra? Kok tadi aku lihat mobilnya nggak ada?!”, Tanya Eca.
“(Terdiam) . . . aku nggak tau Ca”, sambil beranjak pergi.
“Aneh . . . perasaanku jadi nggak enak gini, langsung aja aku beranjak dari tempat dudukku dan pergi ke kelas Andra sapa tau Andra hari ini nggak bawa mobi!”, pikirnya.
Sesampai di depan pintu kelas Andra, meja ujung paling depan kosong, aku makin penasaran kenapa Andra nggak masuk, aku langsung tanya anak yang mau masuk kelas kenapa Andra nggak masuk, ternyata udah 3 hari Andra koma. Butiran air hangat mulai basahi pipi mungilku langsung ku berlari menuju kelas dan izin pulang menuju Rumah Sakit tempat Andra koma. Sesampainya di Rumah Sakit didalam kamar Andra terlihat Papa, Mama dan adik Andra yang cemas menungguinya. Langsung ku masuk ucap salam dan cium tangan Mama Andra, tubuh mungilku langsung dipeluk Mama Andra. Begitu bahagia mereka melihat kedatanganku.
“Ma’afin Eca baru bisa jenguk Andra sekarang
“Eca sayang kamu nggak salah Nak . . . ini semua sudah kehendakNya, kita semua harus ikhlasin kepergian Andra . . . ma’afin Andra ya nak kalau mungkin selama ini sudah salah sama Eca,
“Andra sudah Eca ma’afin Tante . . . Andra nggak pernah buat Eca sedih, Eca ekarang jadi tau kenapa 2 minggu terakhir ini Andra perlahan-lahan ngejauhi Eca, tapi kenapa Andra nggak pernah cerita tentang penyakit yang telah menggerogotinya??? Kenapa Tante???”, ucapnya.
“Sebenarnya Dokter sudah memvonis 10 bulan yang lalu Andra akan pergi meninggalkan kita semua, tapi gara-gara kenal kamu Andra jadi kuat bertahan sampai sekarang Om dan Tante sangat-angat berterimakasih sama kamu Nak . . . !!! Kami semua juga nggak pengen kehilangan andra tapi ini semua sudah kehendakNya, mungkin jalan yang terbaik buat Andra ini . . . kita berdoa aja supaya andra bahagia disana.” , sambil menenangkan ku kemudian
“Andra . . . aku kangen sama kamu sayang . . . ,inget nggak waktu kita maen bareng, jalan-jalan bareng, makan es krim coklat kesukaan kamu. Eca pengen kayak gitu lagi, andra bangun yah . . . please . . . kita semua nunggu kamu sayang . . . kita semua sayang sama kamu. Lihat Papa kamu, Mama kamu, adik kamu semua pengen kamu sembuh . . . please bangun Eca mohon . . . ?!!!”, sambil mencium kening Andra dalam gengaman erat tangan Eca.
Tak ada jawaban sama sekali yang menandakan kalau Andra bangun . . . Hampir 2 jam detik-detik terakhirku bersama Andra sekitar pukul 10.00 WIB Andra menghembuskan nafas terakhir, Dokter sudah tidak bisa berbuat apa-apa, kita semua hanya pasrah menerima kepergian Andra. Kita semua tak kuasa menahan tangis yang amat sangat kehilangan sosok Andra yang sangat disegani oleh semua orang. Perlahan tubuhku mulai melemas serasa ku nggak sanggup nerima cobaan ini.
“Ku nggak boleh nangis, ku nggak boleh sedih, ku baru ingat kata-kata Andra yang terakhir “Jika suatu saat nanti aku pergi jauh, Eca jaga diri baik-baik ya? Eca pokoknya nggak boleh nangis, Eca nggak boleh sedih ya???, Eca pengen
Sekitar pukul 14.00 WIB kami semua antarin kepergian Andra untuk yang terakhir kali, banyak orang yang kagum sama andra, makanya saat pemakamannya begitu ramai kiriman karangan bunga, saudara-saudara Andra, teman-teman Andra, tetangga Andra dan orang yang selalu sayang sama Andra selamanya dan nggak akan terlupakan sampai kapan pun. Selamat jalan Andra . . . semoga kamu tenang dan bahagia disana tertulis . . .
Wira Chandra Aditya
Wafat
14 April 2007
Munginkah Cinta sejati itu akan datang saat bumi tak mampu berputar? Saat gelap menutup mata dan Saat aku hembuskan nafas terakhirku???
Silvia Dwi Puspitasari
XII Bahasa/28
“Syal Merah Jambu”




Posting Komentar